Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cintaku di Kolam Lele

Lele


Kecipak..kecipak..

Suara ikan yang sedang diberi makan oleh para karyawan. Dengan lahap ikan-ikan itu memakan jatah makanannya. Di desaku iki ini memang terdapat peternakan lele yang cukup besar dan maju. Membantu di sebuah peternakan lele tersebut adalah kegiatanku sepulang dan libur sekolah. Itupun jika tidak ada tugas menumpuk dari sekolah.

Pemiliknya bernama pak Darsono, yang sekaligus adalah pamanku sendiri. Aku hanya bertugas mendata berapa banyak ikan lele yang terjual, kadang juga ikut membantu karyawan memberi makan iikan lele yang masih kecil(anakan). Itu cukup mudah bagiku.

Pada suatu hari, ada satu kelompok mahasiswa dari UGM (Universitas Gajah Mada) berkunjung ke desaku. Mereka datang untuk mewawancari Pak Darsono sebagai seorang peternak lele yang sukses, sebagai tugas kuliah mereka. Peternakan lele milik pemanku ini telah dikenal diluar daerah.
Andi adalah ketua kelompok itu. Murah senyum dan ramah, ganteng pula. Mereka menginap di rumah paman untuk beberapa hari ke depan, untuk melakukan penelitian lebih lanjut di peternakan lele pamanku. Sekarang Andi menginjak semester lima.

Malam itu aku menginap di rumah paman karena ayah dan ibuku sedang pergi keluar kota.
“Kamu di jogja ngekost apa gimana Andi?” Aku mendengar paman sedang mengobrol di teras depan dengan Andi. Sedangkan teman-temannya yang lain sedang beristirahat di kamar tamu.
Pamanku dan Andi kelihatan sangat akrab meskipun baru bertemu. Teh hangat yang akan aku hidangkan untuk mereka yang telah siap dan akan kuantarkan kedepan. “Ini paman tehnya.” Ucapku sambil menaruh di meja kecil di depan mereka.”Ooh, iya terima kasih Mila. Eh Andi, kenalkan ini Mila keponakan paman.” Paman mengenalkankupada Andi.

Akupun akhirnya ikut gabung dan mengobrol asyik dengan mereka. Tak lama pamanku masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku hanya berdua dengan Andi.
“Sekarang kamu sekolah kelas berapa?” Tanya Andi padaku.
“Eem, saya sudah kelas 11 di SMA.” Jawabku gugup.
“Udah malam, cuacanya mulai dingin di luar, masuk aja yuk. Aku juga mau istirahat .” Andi pun akhirnya masuk dalam rumah karena memang udara diluar mulai dingin.

Sang Surya pagi mulai menyambutku. Mataku mulai terbuka perlahan ketika sinar matahari menembus lubang-lubang di atas jenedela. Sayup-sayup aku mendengar keramain di luar. Ternyata teman-teman andi dan para karyawan paman sedang menurunkan bibit ikan lel dari truk. Bibit ikan lele tersebut didatangkan oleh Andi dari jogja. Jenis ikan lele unggul yang belum ada dipeternakan paman. Ya, memang paman hanya ternak ikan lele lokal saja.

Hari mulai sore. Langitpun mulai mendung, pertanda akan datangnya hujan. Memang ini sedang musim hujan. Januari akhir masih sangat sering turun hujan. Dan tiba-tiba Andi mendekatiku.
“Boleh temani aku keliling peternakan ini?” Andi memintaku untuk menemaninya melakukan penelitian. Sedah hampir setengah jam kami keliling kolam-kolam ikan, dan aku hanya dianggurkan begitu saja oleh Andi tanpa sepatah katapun ia berkata. Dia sibuk dengan alat tulisnya entah apa yang     ia tulis, tak begitu aku hiraukan.

Hari semakin sore, langitpun semakin gelap dipenuhi dengan awan hitam. Rintikan hujan mulai aku rasakan. “Kak Andi, sepertinya hujan sudah mulai turun.” Ucapku kepada Kak Andi. “Baiklah, ayo kita kembali ke rumah.” Andi pun mengerti apa yang aku maksud.

Setelah sedikit berlari dan hujan pun mulai deras, tiba-tiba kakiku terpeleset dipinggir kolam yang licin akibat terkena air. Hampir saja tubuhku masuk ke dalam kolam lele, beruntung Andi dengan cepat menyahut tanganku, dan menyelamatkaku dari amukan ikan lele jika aku terjatuh ke dalam kolam. Kami sempat saling pandang tapi hal itu tak berlangsung lama, mungkin hanya secepat sinar flash di kamera saja, karena kami menyadari hujan turun dengan lebat dan kamilangsung berlari menuju rumah.

Tak terasa sudah seminggu andi dan teman-temannya disini. Tugas kuliah mereka telah selesai. Waktunya mereka untuk pulang ke jogja. Namun tidak kusangka Andi masih ingin tinggal di sini sementara teman-temannya kembali ke Jogja.

Melamun adalah kegiatanku sore ini di teras depan, sambil memikirkan kapan ayah dan ibu pulang. Tiba-tiba Andi mengagetkanku dari belakang. “Mila, keluar yuk, aku pengen jalan-jalan nih, sambil lihat ikan lele yang aku datangkan kemarin.” Ajak kak Andi kepadaku. “Aahh, Kakak mengagetkanku saja. Baiklah, ayo Kak.” Aku menyetujuinya.

Duduk di atas kursi panjang di pinggir kolam. Semua masih diam. Hingga pikiran penasaranku, mengapa paman sangat akrab dengan Andi muncul, “Kak, kakak kok kelihatan akrab banget sih sama paman? Padahalkan Kakak baru kenal?” Dia pun menjawab, “Hahaha, Mila, ayahku kan teman dekat paman kam, jadi aku sudah kenal lama dengan pamanmu.” Dan sekarangaku tahu mengapa paman sangat akrab dengan Andi. Sambil member makan ikan lele, kami mengobrol lebih lama lagi tentang pendidikan Andi dan begitupun sebaliknya.

Sudah seminggu labih Andi disini. Dan aku semakin akrab dengannya. Mulai ada rasa nyaman ketika aku didekat Andi. Mungkin itu karena dia baik, ramah dan enak diajak ngobrol. Tetapi entah mengapa hatiku merasa ada yang berbeda. Seperti biasa aku sedang mendata ikan yang terjual hari ini, ditemani Andi pula disini. Namun dia hanya mengamati saja tanpa melakukan apa-apa. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Setelah pekerjaanku selesai, aku duduk memandangi ikan-ikan kecil yang sedang muncul di permukaan air dengan mulut yang selalu membuka-menutup. Tiba-tiba kehadiran Andi di sebelahku membuatku setengah kaget.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Andi kepadaku.
“Tidak ada.” Jawabku singkat.
“memikirkan nasibku setelah SMA?” tebak Andi.
“Tidak, hanya memikirkan mau jadi apa kelak kalau aku sudah dewasa. Apakah menjadi peternak seperti paman atau pebisinis layaknya ayah dan ibuku."
“Tak usah terlalu kau pikirkan. Nikmati saja hidup. Ooh iya, nanti sore aku pulang ke Jogja.” Napasku terhenti sejenak mendengar bahwa Andi akan pulang sore nanti. Entah kenapa hatiku sangat berat.

Dan benar saja, sore harinya ia telah bersiap-siap dan berpamitan dengan paman dan aku. Ia pulang diantar oleh salah satu karyawan paman ke terminal, sambil membawa ikan lele dari paman sebagai oleh-oleh keluarga Andi disana.

Gemercik suara air yang sedang mengisi kolam. Dan angin yang berhembus tenang. Serta suara-suara ikan yang sedang berenang bergurau dengan teman-temannya. “Sedang apa kau?”. Suara itu, suara yang sudah tak asing lagi ditelingaku. Andi, iya itu Anda. Seakan aku tak percaya dia kembali lagi kesini. “Kakak, kakak ngapain ? Kapan kakak datang?” takku pungkiri aku sangat senang melihat Andi datang lagi. “Aku merasa ada yang tetinggal disini yang membuatku ingin sekali datang kembali kesini.” Jawab Andi yang membuatku sedikit bertanya.

Dia memandang aku. Agak lama.
“Kamu yang tertinggal disini..,” katanya yang membuatku terpaku panas dingin tapi senang.
Lele itu tetap berkecipak-kecipak riang. Mungkin karena sudah tahu bahwa hatiku pun seriang mereka.

Karya : Reny Oktiana D.E

Posting Komentar untuk "Cintaku di Kolam Lele"

Berlangganan Artikel