Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Toleran dan Kesabaran

Perjalanan

Siang itu di sekolah nampak ramai dan ceria, layaknya pasar yang melakukan jual beli dengan pedagang. Entah apa penyebabnya, ternyata tanpa aku ketahui besok adalah hari libur yang panjang sebab ditambah dengan hari minggu, penyebab utamanya adalah karena ada seorang guru yang mengadakan acara pernikahan dikampung halamannya. 

Murid-murid yang mendengar hal itu sangat bahagia ,terutama aku sendiri. Selain itu kabarnya orang tua ku juga akan pulang kerumah ku yang katanya akan ada acara pernikahan juga dari kakak tiri ku pada esok paginya. Aku sendiri tak sanggup mendengarnya dan sangat ingin cepat-cepat pulang kerumah untuk melepas rindu bersama mereka.

“Assalamu’alaikum” ucap ku saat memasuki rumah. Betapa bahagianya diriku ,ternyata orang tua ku sudah datang. Senang bukan kepalang, aku langsung memeluk mereka berdua. Walaupun lebaran kemarin sudah ketemu tapi rindu terhadap orang tua wajar menurutku. “Kenapa pulang mu cepat, Nak?”, tanya ibu ku. “Tak ada apa-apa sih bu sebenarnya, hanya saja besok hari libur dan aku bisa ikut ibu dan ayah pergi ke pernikahannya kakak” jawab ku. 

Mendengar sahutanku ibuku lega akhirnya aku ada waktu untuk ikutdengannya. Ibuku adalah seorang aktivis pengajian di desa ku dulu sebelum dia pindah bersama ayah baru ku di jakarta untuk mengais rupiah. Sedangkan ayah asliku sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan pada 3 tahun selanjutnya ibuku menikah lagi dengan ayah baru ku itu yang bukan lain adalah tetangga ayah asliku di tempat kelahirannya.


Setelah itu aku langsung ganti pakaian, mandi, dan berkemas-kemas untuk ikut dengan orang tua ku yg akan pergi ke pernikahan kakak tiriku.”Nak.... Ayo cepatlah sebelum larut malam, kasihan kakak mu sudah menunggu disana.” Teriak ibuku sambil mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke tempat pernikahan. Dan aku, aku masih sangat sibuk dengan pekerjaan ku yang belum selesai dan akhirnya tak kuselesaikan dan aku biarkan terbengkalai begitu saja. 

Kemudian tak lama aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat bersama orang tua ku. Sesampainya di terminal, ternyata tak ada satu pun bus jurusan Surabaya yang lewat di depan ku. Lalu setelah menunggu hampir 30 menit ada sebuah bis datang dari arah barat yang akan menuju ke arah Surabaya. Perasaan gundah yang tadinya datang menghampiri ku akhirnya hilang walau sedikit karena ternyata di dalam bis tersebut penumpangnya sangat penuh dan aku dan orang tua ku harus berdiri terlebih dahulu menunggu tempat duduk kosong. Beberapa saat kemudian akhirnya aku dapat tempat duduk dekat orang tua ku, hilang-lah lagi rasa khawatir yang tadinya masih terasa karena tak dapat tempat duduk.


Sunyi tak bersuara, itulah yang kurasa saat berada di dalan bis itu. Terdengar ramai kendaraan berlalu lalang, berkejar-kejaran seakan-akan waktu menjadi hal yang sangat berharga bagi mereka tanpa peduli bahwa keselamatanlah yang menjadi taruhannya. Saat itu aku hanya duduk terdiam, termenung sambil memandangi ramainya jalan raya itu. Dengan berandai-andai, apa jadinya nanti jika aku punya kendaran hebat layaknya mereka yang saling kejar-kejaran di jalan. 

Aku berkata pada diriku sendiri, “Suatu hari nanti jika aku punya mobil mewah yang keren, aku tak akan jadi macam mereka. Aku pasti akan menjaga diriku karena di sana masih ada keluarga yang menanti dirumah”. Saat itu mungkin saja pikiran ku sedikit cemas gundah gulana karena ada suatu pekerjaan sekolah yang harus aku tinggalkan untuk ikut orang tua ku ke acara itu. Sampai-sampai aku berfikir kemana-mana.

Beberapa kemudian aku tertidur di samping seorang penumpang lain. “Mas, Mas... “ Kata orang yang tak aku kenali dan duduk disampingku itu. Dengan terkejut dan setengah sadar aku terbangun “Hm.. oh iyaa?”.

Betapa tambah terkejutnya aku, ternyata orang yang ada disampingku adalah seorang perempuan yang nampak begitu cantik dan baik. Aku sangat malu dan sangat tidak enak karena sudah tidur di samping nya atau lebih tepatnya di pundaknya. Aku hanya tersenyum malu”Hehe... Maafkan aku mbak, aku tak sengaja. Terlalu lelap saya sampai-sampai tak memperhatikan yang ada di sampingku, sekali lagi maaf ya mbak?” . Kemudian perempuan itu hanya tersenyum kepada ku dan hanya berkata “Iya mas, nggak papa”.

Kemudian beberapa saat setelah itu perempuan baik tadi turun sebelum aku bertanya banyak tentang dirinya. Tak ada yang tau darimana dia berasal dan kemana dia akan pergi yang penting dia membuat ku tau betapa penting kesabaran. Menurutku perempuan seperti dia itu sangat jarang ditemui di zaman sekarang, zaman serba hits dan serba modern. Hampir semua perempuan mengikuti adat barat dan sangat sedikit yang peduli terhadap akhlak yang sudah di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia. 


Di zaman ini, aku merasa aneh dan bertanya-tanya ada apa dengan zaman ini, mengapa jadi seperti ini! Seakan-akan keadaannya seperti zaman dahulu tetapi sekarang lebih maju karena lebih mengenal sistem elektronik, internet, kendaraan, dan lain sebagainya. Tetapi akhlak atau perilaku zaman sekarang ini layaknya zaman dahulu. Terutama para perempuan, mereka seakan-akan bangga terhadap pakaian mereka yang terbuka dan nampak auratnya, padahal banyak sekali pakaian yang lebih layak dipakai. 

Aneh, benar-benar aneh, aku saja tidak habis pikir apa motivasi mereka memakai pakaian seperti itu. Lain halnya dengan perempuan tadi, dia nampak begitu tertutup dan berbeda dari perempuan lainnya. Dengan mengenakan jilbab serta jaket yang menutup tubuhnya kecuali tangan dan mukanya, aku merasa sangat malu terhadap hal yang aku lakukan tadi, tapi setidaknya aku sudah meminta maaf bukan.


Waktu terus berjalan dan pikiranku pun juga terus berjalan, entah apa saja yang terlintas dipikiranku waktu itu. Aku tiba tiba merasa pusing dan sangat mual, ibu ku yang mengetahuinya langsung dengan cepat membantuku mengambilkan sebuah tas plastik. Aku tak tau, mengapa dengan diriku, ada apa ini? Tak biasa aku merasa begitu lemah dan lesu. Sambil berfikir akan hal itu, aku sampai- sampai tak dapat tidur dan selalu melihat ke arah jendela barangkali ada sebuah benda ajaib yang bisa mengatasi keresahan dan mual ku itu. 

Aku memang seorang tipe pemabuk tapi bukanlah seorang pemabuk minuman keras tetapi pemabuk perjalanan. Apalagi jikalau supirnya tak hati-hati dan dengan ditambah jalanan yang berlobang dan kasar. Didalam perutku tiba-tiba terasa penuh dan bergejolak. Dan kepalaku saat itu juga terasa pusing tetapi saat aku gunakan untuk tidur awalnya tak ada apa-apa dan aku bisa tidur dengan nyenyak.


Namun tidurku tidaklah lama, aku kembali merasa pusing dan mual karena perjalanan yang panjang ini. Tidurku menjadi tak senyenyak tidurku yang tadi. Entah kenapa aku merasa benar-benar ingin muntah kali ini, rasanya sangat tidak enak, “Bu, sepertinya aku ingin muntah kembali” kataku sambil memegang perut ku yang terasa tidak enak tadi. “Yaudah ini, bawa tas kresek ini buat jaga-jaga kalau muntah nanti!” sahut Ibuku. 

Tak lama kemudian tiba-tiba leherku tak mampu menahan lagi dan, “Bu, aku minta tisu, ada enggak? Aku muntah bu!” kataku sambil memegangi tas kresek yang aku gunakan untuk menampungnya. Lalu ibu berkata “Ada-ada, ini.... Berapa? “
“Sepertinya butuh banyak Bu, ini banyak sekali muntahku.” Jawabku.
“Yaudah-yaudah bawa saja semuanya, nanti kalau ada tukang jualan tisu tak belikan.” Kata Ibuku.
“Oh, iya bu.” Jawab ku sambil mengambil tisu dan mengusapkannya ke bibirku.
“Nak, ini dipakai ini ada minyak angin, oleskan ke perut, leher, dan hidungmu ya? Sama ini Ibu tadi bawa obat anti mabuk, diminum juga, kalau butuh minum ada di tas yang kamu bawa itu.” Kata ibuku sambil terus memperhatikanku.


Aku memang tidak biasa seperti ini, biasanya aku naik bis aman-aman saja tapi entah kenapa dan ada apa dengan diriku saat itu, mungkin saja karena kelelahan atau banyak pikiran yang terlintas didalam benakku. Walau sebenarnya aku ini adalah orang yang pemabuk perjalanan, tetapi saat aku menginjak remaja ini aku mulai bisa beradaptasi dan sudah sangat jarang mabuk perjalanan. Tapi waktu itu aku benar-benar tak tahu mengapa aku lain dari biasanya.

“Nak yang sabar ya.... Ini ujian buat kamu, kamu gak biasanya kayak gini, kenapa nak?” Tanya Ibuku sambil terheran-heran. “Aku tidak tau bu, tiba-tiba saja aku seperti ini. Mungkin karena supirnya yang kurang sip bu.” Jawabku dengan sedikit menahan bicara. Didalam hati aku sambil bicara,” aku tak akan menceritakan masalahku, karena aku tidak ingin membuat beban pikiran orang tuaku”. Tidak hanya sampai disitu, beberapa saat setelah itu aku kembali lagi merasa mual kembali. 

Akhirnya tak lama kemudian aku muntah kembali, rasanya sangat tidak enak. Aku tidak tahan, bis itu sangat ugal-ugalan dan kadang berhenti dengan mendadak. Sesaat kemudian setelah itu aku kembali muntah dan saat itu juga aku mulai merasa lemas. Dan aku hanya bisa duduk diam dan tiduran saja sambil memandangi handphoneku. Saat itu aku begitu nampak susah dan bingung kenapa aku ini. Walaupun begitu aku tetap bersyukur bisa pergi bersama kedua orang tuaku yang tidak dapat aku lakukan setiap hari.



Berjam-jam menunggu sambil tidur, akhirnya tidak terasa aku dan kedua orang tua ku sampai di tempat tujuan. Itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki dikampung halaman ayah tiriku. Saat turun aku nampak bingung kemana aku dan kedua orang tuaku harus pergi, tapi ternyata ayah suadh menelepon kakak tiriku untuk menjemput.

Namun ayah tak tahu pasti dimana posisi kakak tiri ku berada. Kami terus berjalan, hingga Ibuku bertanya-tanya kepada penjual asongan dan tukang bakso,
“Permisi pak, mau tanya parkiran mobil dan motor sebelah mana ya pak?” tanya ibuku.
“Oh parkiran, parkirannya sekarang pindah bu, bukan ke arah sana tapi ke arah belakang bu. Soalnya bagian depan itu katanya mau direnofasi.” Jawab tukang bakso.
“Iya bu... udah pindah tempat sekarang.” Tambah penjual asongan.
“Yaudah bu, pak, saya mau langsung saja kesana. Sudah ditunggu soalnya.” Jawab Ibuku.


Kemudian kami langsung menuju ke parkiran seperti yang diberi tahu tukang bakso dan penjual asongan tadi. Hampir sampai di parkiran, kondisiku semakin lemah karena energiku yang tinggal sedikit bahkan mau habis karena terkuras keluar akibat muntah di dalam bis tadi. Lalu, ayah meminta ku untuk duduk sejenak dan membelikanku minum. 

Lalu ibu, ibu mengolesi hidungku lagi, “Lho bu, kenapa kok aku diolesi minyak angin lagi? Aku kan sudah tidak mual dan aku hanya lemas.” Kataku sambil memegangi perutku. “Itu kamu masih memegangi perut, tandanya berarti kamu masih terasa mual, udahlah nurut saya sama ibu!” Jawab ibuku keras.”setelah ini juga kita akan naik mobil lagi, ke rumahnya ayah mu ini, nanti disana kita istirahat sebentar sekaligus sholat magrib.” Tambah ibuku. Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ibuku tadi aku merasa sedikit lega, karena aku mungkin nanti bisa makan untuk menambah energiku yang sudah habis karena perjalanan naik bis tadi.


Beberapa saat kemudian aku dan orang tuaku kembali mencari kakak tiriku diparkiran yang katanya sudah menunggu sejak tadi. Ayah tiriku kembali menelepon kakak,
“Halo, Assalamu’alaikum”
“Halo yah Wa’alaikumsalam, ayah dimana?” jawab kakak tiriku.
“Ini udah di parkiran, kamu disebelah mana?” Tanya ayah.
“Aku nunggu di depan yah, parkirannya direnofasi aku gak bisa masuk jadi aku nunggu didepan aja.” Jawabnya.
“Hmm... kamu ini gimana kok gak ngsih tahu ayah dulu kalau udah nunggu didepan, ayah udah muter-muternyari kamu diparkiran belakang kamunya nggak ada!” bentak ayahku.
Dengan lirih kakak menjawab ”Iya yah, maaf.”
“Hmm yaudah tunggu, ayah mau kedepan ini.”

Lalu ayah mematikan telepon dan langsung beranjak ke depan sambil membawa bawaannya. Saat itu aku memang tidak tau apa-apa dan aku hanya tertegun diam dan mengikuti kemanapun ayah ku pergi. Beberapa saat kemudian, akhirnya kami bertemu dengan kakak tiriku. Kakak tiriku langsung memeluk ayah dan bersalaman dengan ibuku dan aku. Lalu ia juga mengangkatkan barang-barang bawaan yang kami bawa dari rumah. 



Jalanan malam itu sangat ramai sekali, maklum saja malam minggu banyak sekali anak muda yang kesana kemari berboncengan maupun sendiri berlalu lalang. Benar benar ramai, saat lampu merah saja antrian kendaraan menjadi cukup panjang kata kakakku. Saat hendak menuju rumahnya ayah tiriku, tiba-tiba mobil berhenti. Saat itu kondisiku dalam keadaan setengah sadar karena aku mengantuk waktu itu, aku tidak mengerti apa-apa tiba-tiba aku disuruh turun oleh ibu dan ayahku.”Hmm.. ada apa yah,bu?” Ternyata mereka pergi ke toko buah terlebih dulu, itulah alasannya mengapa mobil berhenti.
“Yah, mau beli buah ya? Kenapa gak besok aja yah belinya, badanku sudah sangata lemas ini.” Kataku sambil memegangi perut lagi.
“Iya,sebentar saja, ini mau buatin parsel buah buat kakakmu nanti. Kamu sabar ya, nanti dirumah ayah pasti ada makanan. Ini nih makan buah dulu buat pengganjal lapar.” Jawab ayahku.
“Yaudah yah, buruan.” Jawabku sambil makan buah yang ada di toko buah itu.
Ibu lalu bertanya “Nak, kamu pengen buah apa?”
“Hmm.. aku pengen jambu bu, tapi manis engak jambunya?” jawabku sambil mengambil sampel jambu yang disediakan.

“Hmm.. manis bu, iya aku mau jambu bu.” Tambahku.
“Iya, pilih yang bagus-bagus terus kasihkan ke penjualnya biar ditimbang.” Jawab ibuku.
Membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya parsel itu selesai juga. Kemudian aku dan kedua orang tuaku kembali ke mobilnya kakak. Ternyata kakakku nampak tertidur dan sepertinya kecapekan menunggu atau memang benar-benar capek menyiapkan acara pernikahannya.
“Kak, kak bangun!” kata ayah.
Kakak ku terkejut, “Astaga.... ayah ini membuat terkejut saja.”
“Ayah kan hanya pelan-pelan membangunkannya. Yaudah ayo berangkat, ini adikmu sudah lapar.” Jawab ayahku.
“Iya yah, sebentar ya, aku cuci muka dulu.” Jawab kakak sambil keluar dari mobil dan mengambil sebuah botol minum air.


Kemudian mobil kembali berjalan dan aku kembali mengantuk padahal tadi sudah merasa tidak mengantuk tetapi waktu masuk mobil mengantuk lagi, aneh. Hampir setengah jam berjalan kami akhirnya sampai di sebuah rumah yang kecil dan sempit. Sebuah rumah yang nampak baru dibangun dan berada diantara dua rumah besar. Awalnya aku mengira itu bukanlah rumah ayah tiriku yang didalamnya ditempati oleh mertuanya. 

Aku kira rumah besar yang ada disamping rumah kecil itu adalah rumah besarnya tetapi ternyata bukan. Lalu aku bertanya kepada ayah “Ayah, kenapa rumahnya kok seperti ini? Bukankah dulu katanya ibu rumahnya ayah yang ini?” kataku sambil menunjuk rumah besar yang ada disamping rumah kecil yang menjadi tempat tinggal mertua ayah tiriku.
“Iya nak, dulu memang ini adalah rumah ayah tapi karena ada sesuatu rumah itu harus disita oleh pak lurah Nak.” Jawab ayahku.
“Lho ada masalah apa yah?” tanyaku penasaran.
“Panjang ceritanya, kamu ingin dengar? Kamu gak akan paham, soalnya rumit ceritanya.”Kata ayahku.
“Ayolah yah, ceritakan padaku.” Kataku
“....” Ayah diam tidak menjawab pertanyaanku
“Ceritakan saja aku ingin tahu.” kataku
“Baiklah, akan ayah ceritakan dengarkan baik-baik.” Kata ayah sambil menghela nafas
“Oke yah, aku akan mendengarkan mu.” Kataku.


Ayahpun menceritakan padaku “Dulu ayah mempunyai rumah yang bagus yang ditempati oleh keluarga adik ayah dan mertua ayah. Kemudian adik ayah meminjam uang di bank dan di pak lurah sehingga utang tersebut menumpuk, sehingga adik ayah tidak bisa membayarnya. Istri adik ayah berinisiatif untuk menjadi TKI di luar negeri untuk mencari uang dan melunasi hutan-hutang suaminya. Akhirnya pak lurah pun menyita rumah ayah sebagai gantinya. 

Ayah juga menghabiskan banyak uang untuk membangun rumah ini ayah juga harus merelakan motor ayah untuk dijual. Ya, jadilah rumah yang seperti ini. Rumah kecil,sederhana dan seadanya untuk tinggal mertua ayah dan adik ayah. Awalnya ayah sangat jengkel karena adik ayah itu tidak memberitahu ayah terlebih dahulu.”
“Oh, seperti itu. Padahal orangnya terlihat begitu baik tadi.” Jawabku heran.
“Ya seperti itulah dia, seakan-akan tidak mempunyai salah sama sekali. Dia juga belum meminta maaf kepada ayah dari dulu. Tapi ayah tetap sabar karena bagaimanapun juga dia masih sedarah dengan ayah.” Tambah ayah.
“Apa ayah tidak memarahi adik ayah itu? Kan yg di sita rumah ayah.” Jawabku semakin penasaran.
“Seumur hidup ayah, ayah tidak pernah memarahi saudara ayah sendiri,apalagi saudara kandung.

Karena ayah diajarkan oleh orang tua ayah untuk menyayangi bukan sebaliknya. Apapun yang dilakukan oleh adik ayah, ayah akan mencoba untuk menerima dan terus bersabar meskipun sulit untuk dilakukan.” Jelas ayah sambil menenangkan diriku yang semakin penasaran terhadapnya.
Aku kembali menyanggah ayah dengan berkata,“Apa adik ayah tidak ayah nasihati karena apa yang telah diperbuat adalah kesalahan yang fatal. Seharusnya dia bekerja menjadi tulang pungung keluarga dan menjaga orang tuanya. Bukan malah membuat orang tua kecewa seperti ini.”
“Kalo menasihati, itu sudah menjadi kewajiban. Sebagai kakak yang baik memang seharusnya menasihati adiknya bukan memarahi, begitu Nak.” Tutup ayahku.


Aku tidak tau apa yang ada dipikiran ayahku saat itu, menurutku dia adalah sesosok yang sangat baik dan bijak dalam hal apapun. Walaupun dia adalah seorang ayah tiri bagiku, namun dia sudah sangat membantuku memberi contoh yang baik sebagai seorang kakak.Tidak heran jika ibuku sangat mencintainya, kata ibu juga dia dulunya juga pernah menjadi ulama dikampungnya tetapi tidak lama kemudian dia memilih untuk merantau mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah anak-anaknya. 

Dia juga menanamkan nilai-nilai dan moral kepada ku tetapi lain halnya dengan kakak tiriku. Ayah nampak begitu gelisah dulu, saat aku tanyai tentang sikap, perilaku, dan ibadah yang dilakukan oleh anak kandungnya itu. Padahal sejak kecil dia sudah di didik di TPA(Tempat Pendidikan Alquran) yang ada di kampung ayahku dulu.


Tetapi setelah beranjak remaja sikapnya perlahan-lahan berubah karena ditinggal oleh ayah tiriku itu untuk mencari nafkah. Dirumah dia tinggal bersama nenek dan ibunya, serta pamannya yang mempunyai hutang banyak tadi. Tetapi nahasnya setelah beberapa bulan ditinggal merantau, istri pertama ayah tiriku meninggal dunia di rumah yang disita itu karena mengalami sakit diabetes yang memang sudah lama tapi tak kunjung diobati. Ayahku yang mengetahui hal itu sangat terpukul perasaannya ditinggal oleh orang yang paling dia cintai. 

Itulah sebabnya ayah tiriku dulu sangat bersemangat mencari pekerjaan untuk kehidupan anak-anaknya. Tetapi anak kandungnya malah bekelakuan tidak seperti apa yang diharapkan oleh ayahku. Itulah sebabnya mengapa ayahku menjadi tidak begitu suka kepadanya, dan akhirnya lebih berharap kepadaku walau aku adalah anak tirinya. Itu semuanya adalah cerita dari ibuku sendiri tentang bagaimana sikap ayah tiriku ini.


Ayahku merupakan seorang pribadi yang sangat bertanggung jawab dan kritis. Di kantornya saja dia menjadi asisten bos katanya. Awalnya aku cukup terkejut mendengarnya, tetapi setelah melihat, mengamati, dan menilai perbuatan ayahku, aku menjadi tidak terkejut lagi bahkan aku menjadi sangat     bangga terhadapnya. Banyak sekali pelajaran hidup darinya yang dapat aku ambil. Bahwa sabar dalam hal apapun sangatlah penting bagi semua orang, orang yang sabar pasti dia bisa sukses entah itu dari sudut manapun, pesan ayah tiriku kepada ku waktu itu.
“Yah, Nak, ayo masuk, sholat magrib dulu!” Teriak ibuku dari dalam rumah.
“Iyaa bu, berangkatttt....” jawabku sambil berjalan masuk ke dalam rumah yang kecil itu.

Sebenarnya aku sangat kasihan melihat kondisi rumah ayah tiriku sekarang tetapi apa daya, saat ini aku hanya bisa mendoakan saja karena aku masih sekolah dan belum bekerja. Aku tak tega melihat mertua ayah tiriku yang harus menerima akibat dari perbuatan anaknya yang tak bertanggung jawab.
Sewaktu solat magrib aku tidak melihat keberadaan kakak tiriku dengan calon suaminya. Disitu hanya ada aku, ayah, dan ibu . Aku berfikir kemana pergi mereka? Bahkan orang-orang yang berada dirumah ini tidak ada yang meninggalkan pekerjaan masing-masing. Aku tidak habis fikir dengan orang-orang yang ada di sini, ada apa dengan mereka sehingga lalai dengan kewajibannya. Ayah yang mengetahui apa yang ku fikirkan langsung menyuruhku agar segera melakukan iqamah.


Setelah sholat magrib aku diajak ibu makan bersama, saat itu aku tidak melihat kehadiran kakak tiriku bersama calon suaminya. lagi-lagi hanya bertiga, aku menghela nafas pasrah. Ku coba untuk menghibur ibuku dan ayah tiriku agar tidak terlalu menjadi fikiran mereka. Orang yang sudah tua dan     banyak fikiran akan membuat kesehatan menurun. Aku tidak tega melihat orang yang aku sayangi seperti ini. Ku coba mencairkan suasana di ruang makan ini agar tidak terlalu sunyi sehingga hanya ada suara sendok dan piring yg sedang beradu. Yaa, meskipun lawakanku tidak terlalu lucu tetapi orang tua ku dapat tertawa, sedikit ketawa tetapi cukup dapat membantu menghilangkan rasa kecewanya.

Orang tuaku mencari keberadaan kakak tiriku yang dari tadi menghilang entah kemana. Tidak pamit, tiba-tiba kakakku langsung pergi begitu saja. Aku hanya dapat menggelengkan kepala melihat orang tua ku yang sudah hampir pasrah menghadapinya. Bisa-bisanya mereka menyia-nyiakan kasih sayang ayah tiriku yang begitu peduli padanya. Meskipun kakak tiriku bukan kakak kandung ku, aku tetap menyayanginya. Hampir 2 jam menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang juga. 

Disaat kakak tiriku beserta calon suaminya itu datang, kemudian langsung di tanyai oleh ayah tiriku. “Darimana saja kak, tadi ditunggu makan kok gak ada?” Kemudian kakakku menjawab ”Tadi habis beli rokok yah.” Kemudian ayah hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tapi ternya mereka berdua dari tadi hanya nongkrong di warung kecil yang disana terdapat teman-teman calon suaminya kakakku itu,”Salam perpisahan sekaligus minta doa dan minta kehadirannya yah” katanya. “Apa besok tidak bisa?” Dalam hatiku bergumam gatal ingin menjawab perkataannya kakak tiriku dan calon suaminya itu. Berkata pada orang tua seharusnya dengan sopan pakai tata krama, tapi ini? Bicara sopan saja tidak pernah apalagi memakai tata krama.


Aku tidak pernah berfikir jika ayah tiriku tersebut bisa sabar menghadapinya. Sudah sekian lama anak dari ayah tiriku itu tidak dapat bekerja sendiri. Sekalinya bekerja paling hanya berjualan di depan rumah dan lama kelamaan juga gulung tikar karena tidak begitu serius menjalaninya. Dan herannya kadang dia hanya dapat mengandalkan harta orang tua, tetapi malas untuk bekerja.
Satu jam setelah itu...

Aku kemudian membantu ibuku untuk menyiapkan barang yang akan dibawa untuk pergi lagi ke daerah tempat berlangsungnya prosesi pernikahan. Tidak kusangka, ternyata tempat pernikahan kakakku ada di dekat puncak gunung, yang dimana disana memiliki suhunya sangat dingin, untungnya aku tidak lupa membawa jaket.
“Nak, kau tak lupa bawa jaket kan?” tanya ibuku.
“Enggak bu, ini udah ada di tas ku.” Jawabku sambil menunjuk kearah tas.
“Oh yaudah, bagussss..” Puji ibuku.
Lalu kami masuk ke mobil yang sudah dipersiapkan oleh kakakku.
Ternyata tak hanya aku dan kedua orang tuaku saja, tetapi mertua ayah tiriku juga ikut dalam rombongan beserta adik ayah tiriku yang nampak baik diluar namun buruk di dalam itu tadi. Akhirnya aku harus mengalah, aku kemudian duduk di belakang bersama ayah dan adik ayah itu tadi.
Tak sengaaja aku kemdian berbisik dengan ayahku.
“Yah, mengapa dia harus ikut bersama kita sih?” Tanyaku pada ayah yang setengah sadar.
“Ya mau gimana lagi, dia kan masih saudara sama ayam... ehhh, sama ayah maksutnya hahaha.” Kata ayahku sambil bercanda.
“Hahaha ayah ini... “jawabku sambil tertawa.
“Huss... jangan keras-keras ketawanya nanti dia denger.”
“Baik yah, baik hahaha.”



Untungnya, saat aku bercanda bersama ayah tentang dia, dia tengah tidur dan tidak terdengar olehnya. Lalu, tak lama setelah itu ayahku tertidur dan hanya aku saja yang terjaga. Karena dari awal masuk mobil memang kondisi perutku masih tidak enak akibat perjalanan naik bis. Walaupun sudah makan juga tadi, aku masih merasa sedikit mual dan itu yang membuatku tidak bisa tidur. Ini benar-benar menguji kesabaran diriku yang benar-benar diuji oleh sakit yang tak kunjung reda. 

Saat itu kondisiku benar-benar diluar perkiraanku, awalnya aku anggap perjalanan ini sama seperti biasanya tetapi saat aku melakukannya jauh dari apa yang aku bayangkan. Sebuah perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan. Aku juga sebenarnya belum pernah melakukan perjalanan sepanjang itu tetapi juga akhirnya aku melakukannya dan hasilnya kondisi tubuhku sangat menurun akibat muntah berkali-kali dan rasa cemas yang mendalam tentang tugas sekolah yang aku tinggalkan.
Kemudian aku mengaktifkan handphone karena bingung dan tidak tahu lagi apa yang harus aku kerjakan. Tiba-tiba temanku berpesan lewat whatsapp,
“Bro, gimana tugasnya?” tanya temanku di grup whatsapp kelasku.
Kemudian aku dengan iseng menjawab,”Tugasnya memetik bintang.”
“Memetik bintang? Memetik dengan galah gitu?” jawab temanku.
“Ya nggak lah bro bro, memetik dengan tangan” jawabku
“Ngapain susah-susah dipetik, ntar kalau matang jatuh sendiri.” Jawab lagi temanku.
“Hahahaha” jawabku.
“Eh ini apa to? Kok malah bercanda?” jawab temanku yang lain.
“Bercanda itu kan membahagiakan” jawabku lagi.

Dengan sedikit percakapan lewat whatsapp bersama teman-temanku bisa membuatku sedikit terhibur. Sembari meringankan pikiran dan hati tentang tugas sekolah. Akan tetapi kondisi tubuhku belum berubah, aku tetap merasakan perut yang mual dan tak berkesudahan ini.



Kemudian aku mencoba untuk tidur tetapi aku tetap tidak bisa tidur karena perutku ini terus bergejolak karena mual yang kurasakan. Tidak hanya mual saja tetapi saat itu aku juga merasakan pusing yang di sebabkan oleh jalan pegunungan yang naik turun. Jalan pegunungan itu memang naik turun dan kadang sangat berbahaya jika tidak hati-hati aku yang membayangkan saja tidak kuat apalagi aku yang harus melewati jalan pegunungan itu sendiri. 

Aku tidak sanggup mungkin saja aku bisa mengalami kecelakaan karena aku sendiri memang belum pandai mengendarai motor. Menurut buku yang aku baca di sekolah, jalan pegunungan itu biasa saja tetapi yang membedakan adalah keadaan geografis atau bentuk lingkungannya. Sama seperti halnya pegunungan mendengarnya saja kita pasti bisa membayangkan bagaimana keadaan jalan yang ada di pegunungan, naik turun dan kadang curam. Jika tidak berhati-hati mengendarai motor yang kita kendarai, pengendara akan mengalami nasib sial atau kecelakaan.


Semakin lama semakin ku rasakan gejolak perutku semakin meningkat. Ibuku memberikan minyak aromatheraphy yang dibelinya di sebuah toko kecil sebelum berangkat tadi untuk olesan di perutku. Awalnya aku menolak karena aku tidak suka rasa panas yang di hasilkan oleh minyak aromatheraphy tersebut. Tapi kemudian ibuku memaksaku untuk memakainya. Aku tidak bisa menolak lagi, akhirnya kuterima meski ku tau akibatnya. 

Ibuku menyuruh untuk mengoleskannya di bagian leher, perut, hidung dan di pelipis mata. Langsung ku laksanakan perintahnya karena aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak. Setelah itu ku coba untuk menutup mata dan mencoba untuk terlelap karena perjalanan masih panjang. Hanya beberapa saat aku bisa terlelap, aku di hadiahi dengan jalanan yang naik turun dan bergelombang. Aku sudah tidak bisa menahannya, aku mencolek lengan ibuku dan memberi kode agar segera di siapkan keresek untuk tempatku mual.
“Bu... tolong ambilkan kantung kresek.” Kataku
“Apalagi..” jawab ibu
“Aku mual, nampaknya anuku ingin segera keluar.”
“Hm anu apa?”
“Aku sudah tidak tahan lagi, cepatlah buu.”
“Anu apa sih? Katakan pada ibu.”
“Ini loh bu perutku...” Kataku sambil sedikit geram.
“Apasih” jawab ibuku yang ternyata dalam keadaaan setengah sadar.
“Halah ibu ini... masih mengantuk ternyata!”
“Hehe iyaa nak. Kamu tadi bilang apa?”
“Perutku nampak nya sudah tak kuat lagi menahan sakit ini bu, aku mau muntah kayaknya.”
“Ow... Yaudah bentar, ibu ambilkan tas kresek dulu.”
“Iya bu, agak cepat ya.”
“Hmm.. iya, sabar.”

Dengan gesitnya ibuku menyodorkan kantumg keresek yang masih baru itu kepadaku dan langsung ku terima. Aku mencoba memuntahkan apa yang ada di perutku tetapi tidak bisa, hanya ada air bercampur sedikit nasi yang keluar dari perutku. Rasa sakit yang sangat kurasa saat itu. Tak ada satu katapun terucap dari mulutku yang keluar, aku hanya memegang sebuah kantong kresek sembari mengeluarkan apa yang ada di dalam perutku.

Sebenarnya dahulu saat aku masih berumur 7 tahunan, aku sering sekali mabuk perjalanan, entah itu naik bis, mobil, kereta dan kendaraan ber-AC lainnya. Tapi sampai saat ini aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik pesawat terbang. Apakah pesawat terbang itu ber-AC? Mungkin saja iya, tapi aku tidak mengetahuinya pasti. Apakah naik pesawat terbang itu enak? Mungkin saja juga iya, karena kebanyakan orang yang naik pesawat berpendapat bahwa naik pesawat terbang itu enak. Selain itu naik pesawat terbang juga sangatlah menghemat waktu, dan banyak disukai oleh para     wisatawan dan orang-orang sibuk diluar sana. Berbeda dengan aku, aku bukan lah orang sibuk ataupun orang kaya. Itulah sebabnya kenapa aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik pesawat terbang.


Jika hendak pergi kemanapun, dan saat aku naik kendaraan ber-AC, aku pasti mabuk perjalanan. Tetapi saat itu juga aku berusaha untuk tidak mabuk perjalanan tetapi sudah sekian ratus kali aku gagal. Dan pada akhirnya saat aku duduk di bangku SMA kelas X aku melihat ada yang berubah terhadap diriku. Aku menjadi seorang yang tidak pemabuk perjalanan lagi. Dari situ aku juga dapat belajar bahwa berusaha tidak akan menghianati hasil. 

Berusaha itupun juga sangat dianjurkan oleh agama. Jika kita mengalami kegagalan, maka kita di wajibkan untuk mencobanya kemabli sebelum menyerah. Jika gagal kembali, teruslah berusaha sampai benar-benar tidak bisa atau tidak tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya. Maka saat kondisi tersebut terjadi kita disarankan untuk bertawakal atau berserah diri kepada Allah SWT. Karena hanya dengan bantuan dan karunianya kita dapat melakukan suatu hal dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Tetapi anehnya, saat itu kondisiku menjadi tidak seperti biasanya. Dari awal perjalanan hingga saat ini, aku merasakan ada yang berbeda. Kondisiku sangatlah lemah dan tak berdaya, seakan-akan aku seperti kehilangan jati diri dan juga kekuatan. Energiku seakan nampak habis karena perjalanan yang sangat panjang tadi. Walaupun sudah terisi sebagian tetapi rasa mual ini tak kunjung reda dan akhirnya membuatku lemas karena aku memuntahkan kembali apa yang telah terisi didalam perutku. Layaknya sebuah mobil yang kehabisan bahan bakar, kemudian kembali diisi bahan bakarnya tetapi tutup wadah tersebut lupa ditutup dan akhirnya membuat bensin tersebut menguap sia-sia. Dan mobil itu, kembali kekurangan bahan bakar.



Saat itu kondisiku benar-benar tidak seperti yang aku bayangkan. Aku benar-benar merasakan ujian yang sangat berat dengan adanya sakit yang tak kunjung reda. Kalau dihitung dengan jaripun pasti sangatlah banyak, bahkan mungkin sampai tak terhitung jumlahnya. Tak tahu harus apalagi yang aku lakukan, aku hanya bisa diam dan duduk termenung sambil melamun.

Beberapa saat kemudian, keadaan hatiku sudah tidak lagi gundah karena rasa mual dan muntahku sudah hilang dan sudah ku keluarkan. Perasaan lega mnyelimuti benakku, tapi tunggu dulu, persaab senang tersebut ternyata hanya datang sementara saja. Setelah itu, aku kembali merasa sangat mual lagi, kali ini lebih sakit daripada tadi. Rasa nyeri dan mual dalam perut semakin menjadi-jadi karena aku pikir di dalam perutku sudah tak ada lagi isi alias kosong. Aku kembali merasa sangat diuji oleh Allah.
“Ya Allah, nikmat apa lagi ini! Berikan hambamu kekuatan...”kataku dalam hati sambil meringis menahan sakit.

Allah memang memberikan ujian itu tergantung dari seberapa kuat iman seseorang. Tetapi, apakah aku tergolong orang yang kuat iman? Aku rasa tidak. Karena aku tidak tahu pasti apa penyebab Allah memberiku cobaan berupa sakit yang tak kunjung reda ini. Mungkin saja ini semua adalah akibat dari semua tindakanku yang menyalahi aturan-aturan agama atau biasa dikenal dengan ‘azab’, Naudzubillah. Aku sangat takut jika dikait-kaitkan tentang azab jikalau benar itu adalah azab untukku, aku tetap bersyukur, karena Allah masih mengingatkanku dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mungkin sama saja denganku, orang-orang pasti takut jika terkena azab dari Allah, namun setiap orang berbeda cara menyikapinya.


Karena tak tahan lagi, akhirnya ku keluarkan apa yang ada didalam perutku ini. Sakit yang kurasa memang tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Mungkin saja itu adalah peringatan lagi dari Allah kepadaku. Aku hanya bisa sabar menghadapinya, karena sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Benar-benar lemas, itulah yang kurasakan karena memang sudah tak ada lagi energi yang tersisa. 

Dan aku hanya bisa pasrah, dan kemudian aku mencoba tidur saja. Tak ada lagi pikiran atau bayangan yang terlintas di angan-anganku waktu itu. Kosong, dan tak terisi layaknya ember bocor yang sudah terisi namun pecah karena jatuh.
Lagi-lagi tak seperti yang aku bayangkan. Perjalanan menuju tempat pernikahan kakak tiri ku ini ternyata benar-benar jauh. Setengah jam sudah aku duduk di mobil tua itu, tapi tetap saja masih belum sampai.
“Yah..” panggilku pada ayah dengan lemas.
Tapi ayahku masih tetap tertidur, dan tak mendengar suaraku yang tampak pelan di telinganya.
Aku kembali memanggil, “Yahhhhh.....” kali ini aku memanggilnya dengan nada sedikit keras.
“Hmm.. apa?” tanya ayahku yang terkejut, bangun.
“Apa ini masih jauh lagi kah?”
“Hm, tidak tahu, ayah saja juga baru kali ini kesini.”
Tak kusangka, ternyata ayahku saja tidak mengetahuinya.
“Ayah ini....” jawabku dengan sedikit geram.
“Iya nak, ayah juga tidak tahu. Tunggu saja nanti juga akan sampai.”
“Iya yah..” Jawabku pasrah.
Lalu ayahku kembali tidur, tapi tiba-tiba ayahku bangun dan berkata,”Hey, gimana kondisimu?”
“Ya beginilah yah, masih sama.”
“Masih lemas?” Tanya ayahku.
“Masih yah” Jawabku lirih.
“Tadi tanya kenapa? Kamu lapar?”
“Iya, yah. Tapi tak apa aku masih kuat kok ini.”
“Yakin kuat? Nggak pengen makan dulu aja? Nanti ayah bilang aja sama kakakmu supaya diberhentikan dulu cari makan. Biar perutmu itu keisi, gak lemes kayak gitu.”
“Enggak ah, nanti merepotkan kakak. Biar sampai dulu aja yah, nanti makan disana aja sama-sama.”
“Baiklah, yang penting kamu kuat ya.” Jawab ayahku yang kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


Tak kuat, itulah sebenarnya yang aku rasakan saat itu. Tapi lebih tidak enak lagi, jika aku merepotkan kakak tiriku dan ayahku. Dan lebih baik, aku bersabar menunggu dari pada menyusahkan. Saat itu aku hanya bisa berkata dalam hati “cepatlah sampai”, tetapi sepertinya masih jauh karena saat itu aku masih banyak melihat segerombolan pohon yang menyisiri perjalananku tanpa melihat adanya rumah. 

Aku merasa sangat bosan menunggu, bisa dikatakan diriku ini adalah orang yang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Disaat kondisi yang sangat lemah ditambah dengan perjalanan panjang yang melelahkan. Aku kemudian mencoba menghibur diri dengan bermain handphone saja. Lagi-lagi tak ada yang menarik, aku hanya memainkan lagu saja dengan bantuan earphone ditelinga sambil mencoba untuk tidur. Dan alhamdulillah, akhirnya kali ini aku bisa tidur.



Saat tertidur, aku sedikit terlintas mimpi yang tak karuan. Didalam mimpi itu sedikit dapat kulihat bahwa akan ada sedikit hal yang berbeda dan tak pernah kutemui sebelumnya dalam keseharianku. Mimpi itu adalah, ditempat pernikahan tersebut akan ada sebuah kejadian aneh yaitu perjudian atau semacamnya. Aku sebenarnya tidak cukup percaya jika mimpi itu bisa menjadi kenyataan, tetapi banyak dari teman-temanku percaya jika mimpi itu akan menjadi kenyataan. 

Tetapi menurutku, semua yang kita lakukan didunia ini akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti dan menurutku juga mimpi itu bisa jadi kenyataan jika Allah mengizinkannya terjadi atau memang sudah ditakdirkan terjadi. Serta mempercayai hal yang tidak mungkin bisa dipercayai itu mungkin saja juga sedikit menyalahi aturan dan sebagian orang menganggapnya sebagai syirik.



Entah harus percaya atau tidak aku pun tidak tau, aku sedikit bimbang. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jika ku ceritakan kepada ibu bagaimana? Pendapat ibu mungkin bisa sedikit mengurangi rasa kebimbangan yang melanda fikiranku. Tiba-tiba saja ada yang melambaikan tangan di depan wajahku dan meneriakkan namaku, aku sedikit terkejut. Ada apa, apa yang terjadi?
“Hayoo, ngelamun. Ngelamunin apa hayo?” kata ibu. Iya, ibuku itu tadi ibu yang mengagetkanku.
“Mengagetkan saja ibu ini. Aku fikir siapa tadi.” Jawabku
“Salah siapa melamun. Ibu kan tidak berniat mengagetkanmu, kamu nya aja yang kagetan.”
“Ibu ini, aku tidak melamun kok. Ya ibu sih datangnya tiba-tiba di depan mata.”
“Ibu menyadarkanmu nak bukan mengagetkanmu. Kesambet baru tau kamu, kalo sering melamun.” Cetus ibu
“Iyaiya.” Kataku “Em, bu. Mau tanya boleh?”
“Tanya apa nak?” jawab ibu
“Kalo orang bermimpi tentang suatu hal, apakah mimpi tersebut benar-benar terjadi atau tidak.”
“Ya kunfayakun jika allah menghendaki maka akan terjadi dan jika tidak dikehendakinya maka tidak akan terjadi. Itu tergantung pada allah nak, manusia hanya dapat berdoa saja.” Kata ibu “Memangnya kamu bermimpi apa? Kata ibu lagi.


“Aku semalam bermimpi jika di pernikahan kakak ada sebuah kejadian aneh yang belum pernah aku temui sebelumnya. Di kejadian tersebut banyak orang-orang yang sedang meminum-minuman keras dan ada juga yang melakukan sebuah perjudian. Disitu banyak orang yang sedang mabuk dan berjoget ria dengan penyanyi campursari yang ada di panggung. Entahlah aku tidak bisa mendeskripsikan lebih lanjut lagi bu.” Jawabku panjang lebar
“Kalo menurut ibu mimpi mu bisa saja terjadi disini, karena disini itu ilmu agama nya sangat kurang."

Karya : Adam R.S

Posting Komentar untuk "Toleran dan Kesabaran"

Berlangganan Artikel