Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sisa Hidup di Sekolah

Sisa Hidup di Sekolah

Brukk!

Valen merebahkan tubuhnya diranjang yang cukup besar baginya. Dengan cekatan ia meraih remote TV yang ada dimeja dekatnya. Ia menggonta-ganti chanel TV, mencari film korea atau animasi yang lebih ia sukai. Namaun, yang ia temukan film-film alay dan menjijikkan baginya. Valen mematikan TV dan beranjak ke balkon depan jendela. Ia melihat pemandangan sore Kota Jakarta. Berbagai fikiran ia lalui saat itu. Kejadian kemaren muncul dibenaknya.

*Flashback On

Plakkk!!!
Satu tamparan mendarat mulus dipipi wanita separuh baya. Suaminya mulai berkata kotor tentangnya. Wnita yang bernama Maya itu, tak merona sedikitpun. Karena memang ia salah. Disisi lain, gadis yang baru berumur 16 tahun mengintip didepan pintu kamarnya. Gadis itu menangis kencang dan tanpa sadar ia merosotkan tubuhnya kelantai.
“Loe gak bisa jadi istri yang baik !! sekarang gua mau minta cerai dari loe.” Ucap Lelaki itu.
“Ma, Pa! Sudah. Valen nggak mau Mama dan Papa cerai.” Teriak Valen darri atas tangga.
“Diam!!nggak usah ikut campur.” Bentak lelaki itu. Valen hanya terdiam dan merutuki nasibnya.

*Flashback Off

Sekarang Valen tinggal di apartemant yang dulu ia beli ketika ia mendapatkan honor dari pemotretan. Valen seorang model, baik dmajalah maupun diiklan-iklan. Entah dimana orang tuanya sekarang. Kejadian itu sudah berlalu, tepatnya sethun yang lalu. Yang ia tahu, sekarang Mamanya tinggal bersama laki-laki lain. Sedangkan Papanya masih tinggal dirumah dulu.


Pagi itu matanya terasa berat, ia bercermin dan melihat wajahnya yang pucat, mata sembab, hidung merah, kibat tangis tadi malam. Mobil Jazz yang ia pakai untuk bersekolah.
“Loe udah ngerjain PR?”
“Gua nyontek PR loe dong!”
Gua juga, biar gua foto aja!”
Riuh kelas itu pagi-pagi, XI IPA 1. Ada yang sibuk nyonteklah, ada yang sibuk memfoto PR temannya. Namun, aktivitasnya berhenti ketika Dony selaku ketua kelas mengumumkan pengumuman.
“Pengumuman! Hari ini kita freeclass sampai jam sebelas, dikarenakan pak Guru sedang rapat untuk acara Mom Day.” Tegas Dony.
Huuuu!!! sorak murid kelas XI IPA 1.


Valen memutuskan pergi ke kantin dengan Fania, teman sebangkunya. Ia melewati koridor kelas, namun langkahnya terhenti ketika ada tiga lelaki yang ada paling depan. “Mungkin ketuanya.” Gumam Valen dari hati.
“Minggir gua mau lewat!!” Cetus Fania.
“Loe pikir, loe siapa???!!!” Bentak Dirga. Ya, laki-laki itu bernama dirga Most Wanted disekolah dan notabennya anak dari pemilik yayasan sekolah ini.

Ketiga laki-laki itu masing-masing membawa sebatang rokok, menghisapnya lalu menghembuskannya ke udara. “Sangat dilarang sekali merokok di sekolah.” Gumam Valen dalam hati. Valen dan Fania beranjak pergi dari gerombolan lelaki itu. Lelaki itu hanya tertawa sinis.
“Val, gua pulang dulu ya!” teriak Fania.
“Hm.”Gumamnya Valen.
Valen melaju dengan kecepatan sedang, tak lupa ia mampir ke supermarket untuk membeli berbagai keperluan dapur.


Sore itu Valen dapat telepon dari Mike managernya, bahwa ia harus ada pemotretan mendadak. Sekolah sambil kerja, tak menjadi masalah baginya. Saat ditempa pemotretan, ia merasakan sesuatu keluar dari hidungya, darah. Ia melihat tetesan darah di bajunya. Kepalanya pusing dan saat itu kesadarannya hilang. Valen jatuh pingsan. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Cahaya matajhari menembus jendela kamarnya. Setelah kejadian semalam, ia diantar beberapa kru kerja ke apartemantnya, hari ini ia tak masuk sekolah.
“Tok..tok..tok” Suara ketukan pintu.
Valen membuka pintu dan ternyata dokter. Dokter itu memberikan amplop yang berisi hasil periksa Valen kemarin.
Deg!

Detak jantung Valen berhenti sekejap melihat isi amplop itu. Selembar kertas yang bertuliskan bahwa ia divonis penyakit kanker otak stadium lanjut.
“Maaf. Itu adalal hasil periksa kemarin. Saya mohon anda harus istirahat yang cukup dan minum obat ini.”Ujar dokter itu sambil menyodorkan beberapa obat.
“Loe harus kuat Val, loe gak boleh lemah. Tunjukin kesemua orang kalau loe ini nggak lemah. Ceria. Ya, loe harus ceria meski masa remaja loe sangat suram. Bersemangatlah, loe masih punya teman banyak.” Gumamnya dalam hati sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Kring..kring..kring..”

Suara alarm membangunkan tidur cantik Valen. Ia menatap dirinya dicermin, matanya sembab dan hidungnya merah. Ia beranjak kekamar mandi, menyalakan shower dingin. Selama 45 menit ia berendam di bawah shower. Hari itu ia naik taxi, karna kemarin mobilnya masih di lokasi pemotretan. Valen duduk dihalte menunggu taxi yang dari tadi tak kunjung datang maupun lewat.
“Hai! Bareng gue aja.” Ujar Dirga pemilik mata hazel itu.
“Gak usah, makasih.” Jawab Valen datar.
“Udah nggak usah malu! Oh ya, kenalin gua dirge Fregata Charoni.” Sahut Dirga memperkenalkan diri.
“Ouh...nama gua Valencia Cullen Gunata.” Jawabnya.

Tanpa menunggu jawaban, Dirga langsung menarik tangan Valen. Valen tak meronta sedikit pun dan langsung naik ke motor sportnya Dirga.
Tatapan sinis tertuju kepada Valen. Para fans dan penggemar Dirga merasa marah melihat Dirga dengan cewek lain.
“Makasih.” Ujar Valen.
“Iya sama-sama.” Jawab Dirga mengembangkan senyumnya.
Tiba-tiba saja Dony masuk membawa pengumuman.
“Pengumuman !” Tegasnya.
“Hari ini kita jamkos, guru killer itu gak masuk dan disuruh sama guru piket mengerjakan LKS Biologi hal. 128.”
“Lempar sini kertasnya.” Teriak beberapa murid kelas XI IPA 1.

Ada yang lempar-lempar kertas yang dibentuk pesawatlah, ada yang mojok nonton videolah, entah video apa itu. Valen memutuskan pergi ke perpustakaan sendiri tanpa Fania. Ia berlari melewati koridor-koridor kelas. Tiba-tiba cairan darah itu keluar lagi dari hidungnya. Kepalanya pusing dan ia terjatuh. Bukan jatuh kelantai, melainkan jatuh dipelukan seorang Dirga.
Valen mengejapkan matanya, melihat langit-langit dinding UKS.
“Haii!” Sapa Dirga.
“Hm!” Jawab Valen lemah.

Dirga menjelaskan semuanya yang terjadi di koridor tadi. Hari ini Valen dispense dan diantar pulang oleh Dirga. Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu bertemu dengan mata hazel itu. Malam itu ia diajak Dirga Dinner.
“Loe mau pesen apa?” Tanya Dirga saat di Cafe.
“Samain aja kayak loe!” Jawab Valen.

Setelah pesan tak lama kemudian pesanannya datang. Tiba-tiba, “Jadi pacar gue ya?!” Ujar Dirga sambil memegang tangan Valen.Valen hanya terdiam, jantungnya berdetak kencang, tubuhnya mematung seketika.
“Sorry Dir..gua belum bisa jawab, mungkin besok.” Jawabannya terbata-bata.
“Valen mengatakan sesuatu, “Iya.”
“Kenapa Val?” Tanya dirge dengan bingung.
“Guam mau Dir.” Jawab Valen spontan.

Dirga hanya terkekeh lalu memeluk tubuh Valen. Dirga menanyakan berbagai pertanyaan. Valen hanya bisa menjelaskan dan sekali air matanya jatuh. Dirga hanya menghela nafas dan sekali mengusap air mata Valen. Valen menceritakan bahwa ia tak punya orang tua sampai penyakitnya itu.
“Loe satu-satunya harapan gua Dir.” Ujar Valen.
“Gua janji bakal buat loe bahagia lebih dari saat ini.” Ujar Dirga.

Valen masuk kerumah sakit lagi. Hanya Dirga yang ada didekatnya. Suara alat detak jantung dan bau obat-obatan khas Rumah Sakit. Suasana seperti ini yang Valen alami.
“Nanti Mama gua mau jenguk loe, boleh kan? Tanya Dirga.
Valen hanya mengangguk menandakan mau. Hari ini Dirga keluar sebentar untuk membeli keperluan Valen di rumah Sakit.

“JDEERRR.”
“Pergi loe dari sini.” Teriak Valen menunjuk kea rah wanita separuh baya. Wanita yang tak lain disebut ibu kandungnya.
“Maafkan Mama sayang. Mama gak tau.” Ujar Maya.
“Don’t touch me!” teriak Valen.
Maya hanya menghela nafas dan menangis pergi keluar dari pintu kamar inap itu. Valen menangis sejadi-jadinya hingga tersendak.
“Haii! Tadi ada Mama gua gak kesini?” Tanya Dirga masuk ruangan.
“Valen hanya menggumam, kini ia sudah tak terlihat menangis.
Valen hanya menggumam, kini ia sudah tak terlihat menangis.

Valen sudah bisa masuk sekolah hari ini dengan antar jemput oleh Dirga. Valen sudah tau, Mamanya kini telah manjadi Mama Dirga.
“Pengumuman!” teriak Dony.
“Besok ada acara Mother Day dan setiap kelas harus mengajukan satu murid untuk perwakilan acara tersebut. Semua murid diwajibkan diwajibkan mengajak orang tuanya, minimal ibunya.” Jelas Dony selaku ketua kelas.

Semua mata tertuju kepada Valen. “Val loe aja, kan loe jago main piano!” teriak beberapa murid. Valen hanya menyengir.
“Hm.” Jawab Valen datar dengan gumaman.

Valen sedang duduk dibalkon apartemantnya. Dari hasil check up kemarin, bahwa ia sudah tidak lama lagi. “Bodo! Udah meninggal.” Gumamnya dalam hati.
Penyakitnya sudah semakin parah, tak lagi umurnya tinggal beberapa bulan. Untuk apa ia harus memperhatikan semuanya.

Semua OSIS sibuk dengan persiapan acara hari ini.
Valen hanya bersiap-siap.
2 jam kemudian...
“Mari kita sambut, Valencia Cullen Gunata.” Ujar pembawa acara.

Sebelum naik ke atas panggung, kepalanya marasa sakit. Namun, Valen tak selemah itu. Semua murid mengajak orang tuanya begitu juga Dirga. Valen melihat seseorang dibarisan duduk paling depan. Wanita separuh baya yang membuat hidupnya hancur.

Valen mulai memainkan piano dan membawakan lagu Bunda oleh Melly Goeslaw.

   Kubuka album biru
   Penuh debu dan usang
   Kupandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda
   Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih
   Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku
   Kata...mereka diriku slalu ditimang
   Kata...mereka diriku slalu dimanja
   Oh...bunda ada dan tiad dirimu kan selalu ada didalam hatiku...

Suara merdu dari piano dan lagu membuat murid-murid terharu. Ada juga yang sampai menangis. Dan saat itulah Valen meninggalkan dunia selama-lamanya. Semua orang kaget melihat Valen tergeletak hingga tewas. Dirga dan Mamanya menangis sejadi-jadinya. Karena itu sangat tak terduga dan pada akhirnya semua konflik yang memanas selama bertahun-tahun terungkap semua. Papanya, Mamanya, Dirga, kerabat serta teman-temannya mengantarkan kepergian Valen untu selama-lamanya.

Maya yang sekarang menjadi wanita ganguan jiwa. Setelah mengetahui itu, Dirga dan Papanya mengusir Maya dari rumahnya. Sekarang Dirga berubah dari bad boynya dan menjadi lelaki yang berguna. Itu semua terjadi akibat Valen yang selalu menasehatinya tentang apa arti kehidupan. “Semoga kamu bisa tenang disana.” Gumam Dirga dalam hati sambil mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya.

~THE END~

Karya : Febri Valentina Setyowati

Posting Komentar untuk "Sisa Hidup di Sekolah"

Berlangganan Artikel