Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengagum dalam Kanvas Bisu

“Ayo pulang...” Pak Tono menyapa lelaki itu. Lelaki itu sedang melukis, jari jemarinya sibuk memegang kuas dan warna-warni pun ditumpahkan ke dinding seakan ia sedang merangkai suatu untaian kata, yang tidak bisa ia ucapkan lewat lukisan itu. Dia pun menjawab pertanyaan Pak Tono, “Iya pak, duluan saja masih mengerjakan ini loh.”

Aku melihat kea rah leleki itu, sungguh indah lukisannya. Siapa lelaki itu? Tak henti-hentinya pikiranku menanyakan hal itu. Mataku tak berpaling, aku sungguh penasaran dengan wajah laki-laki itu, tanpa disengaja ataukah memang dia mendengar permintaanku.

Dia sedikit menoleh memperlihatkan sedikit wajahnya, wajahnya begitu serius, tangannya terampil menggerakan ujung kuas, dengan ketelitian yang begitu telaten, dia berhasil merebut pandanganku. Lelaki itu tak banyak bicara, dia tumpahkan tinta warna warni sebagai medianya, meluapkan emosi di dalam kanvas menjadi karya indah, sebuah saksi bisu yang mengetahui jalan pikirannya.

Tak henti-hentinya pikiranku tertuju pada lelaki itu hingga aku tiba di rumah. Aku bertanya pada diriku sendiri “siapa dia?”. Aku tersenyum dan aka hanya menggelengkan kepala. Lama kupendam rasa penasaran hingga pada akhirnya, di suatu ketika aku melihatnya memainkan sebuah alat musik gitar, dengan suaranya yang merdu. Aku kembali terpaku, aku merasa seperti pertama aku bertemu dengan dia.

Lelaki itu tak banyak bicara, kali ini dia luapkan keluh kesah hidupnya dengan petikan senar gitar. Dia ubah keluh kesah itu menjadi nada-nada yang indah. Aku mulai mencari tahu tentang dirinya, hingga kudapatkan nama dan apa yang dia lakukan. Entah ini sebuah hal kebetulan atau tidak, tapi aku merasa Tuhan telah berbuat baik padaku. Di setiap acara aku semakin sering bertemu dengan dia.

Apa yang terjadi padaku? Hanya itu yang menjadi pertanyaanku, bagaimana tidak aku selalu bahagia bila bertemu dengan dia. Padahal dia sosok yang cuek menurutku. Karena dia tak pernah bicara padaku, tidak sepertin yang lainnya. Pada suatu ketika saat mengikuti pecan seni alun-alun kota, aku bertemu dengan dia lagi. Dia bertanya padaku dan teman-temanku, “sudah sarapan belum?” aku tahu bahwa pertanyaan itu bikan hanya untukku, tapi hatiku bergetar, detak jantungku berdebar, memicu pergerakan aliran darahku semakin kencang. Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya.

Lelaki tiu tak banyak bicara, deruan suaranya yang terdengar dingin di telingaku, membuatku semakin kaku, lidahku kelu untuk sekedar menjawab “ya” dari setiap pertanyaannya. Hari selanjutnya, karena ajakn seorang teman untuk makan bersama, aku kembali bertemu dengan dia. Bukan main, aku senang mendapati kehadirannya dan tanpa disengaja pula, ban motor temanku bocor     sehingga salah satu temanku harus datang untuk menolongnya, dan kami berdua tetap tinggal di meja makan.

Dia bertanya padaku, “ Kamu punya kartu ATM nggak?” Aku berdebar, lidahku kelu untuk menjawab pertanyaannya, dengan susah payah aku berusaha mengucapkan kata “nggak” yang keluar dari mulutku. Kau sangat takut jiak jawabanku kurang pantas atau bahkan menyinggungnya. “Aku mau transfer uang, tapi kayaknya kartu ATM-ku bermasalah,” sahutnya. Aku semakin salah tingkah, aku berfikir keras mencaru cara bagaimana aku bisa berperilaku sebagaimana mestinya (mencari cara untuk tetap tenang). Dan tiba-tiba teman-temanku datang.

“Syukurlah...” aku mengucapkan kata itu di dalam hati, “tapi...kenapa? kenapa duduknya harus berhadapan? Tidak...!!!” di dalam hatiku ini sedang mengalami dilema yang sangat menyusahkan, antara mau tapi malu. Kami mulai makan dan mendengarkan lagu yang sengaja di putar di rumah makan itu, dan aku masih sangat ingat lagu itu adalah lagu “duhai cintaku sayangku, lepaskanlah perasaanmu rindumu sluruh cintamu, dan kini hanya ada aku dan dirimu sesaat dikeabadian...” BCL ft. Ari Lasso.

Waduh makin baper aku, selesai makan dia pamit pulang dan tanpa sengaja alias keceplosan aku berkata,”Ati-ati dijalan ya...” dan dia pun menjawab, “Iya...”. Duh baperku membunuhku, dan parahnya lagi hatiku mulai menyanyikan Sorak-sorak Bergembira. Lelaki itutak banyak bicara, kecintaannya pada seni semakin membuatku semkin terpukau saat melihatnya dan aku kira semua itu hal yang wajar.

Pertemuan selanjutnya sepulang sekolah. Dia keluar dari pintu gerbang, hanya aku yang kepedean atau memang dia tersenyum padaku, dia berlalu dan beberapa menit kemudian dia kembali. Tanpa kusadari aku bertanya, “Kenapa kembali?” Dia menjawab. “Tasku ketinggalan” dengan di iringi gelak ketawanya. Aku hanya tersenyum, kemudian dia kembali dengan membawa tasnya, dan dia bertanya padaku, “Mau bareng nggak?”. Jantungku berdebar, akau tepaku dan lidahku kelu, aku tak mampu mengeluarkan katadari mulutku, sesaat aku hanya terbisu dan tiba-tiba aku hanya menjawab “ha?”. Dia tersenyum dan tetap melaju dengan motor itu.

Lelaki itu tak banyak bicara, dia tetap tak banyak bicara banyak, tapi mengapa? Mengapa aku terus terbayang akan dirinya, seakan dirinya adalah benalu yang mengikatku untuk mengingatnya.

Tanpa kusadari menetes air mataku, namun tetap aku melihat padanya. Dia sedang melaju menjauh dengan motornya, hingga dia menghilang dari pandanganku. Dan aku baru sadar bahwa aku telah mengagumi dia sejak pertama kali aku melihatnya. Lelaki itu tak banyak bicara, tetap tidak banyak bicara, tetapi begitu rumitnya rasa kagum yang tidak bisa dijelaskan kata-kata membuatku semakin tingkah apabila di dekatnya. Pada hari itu aku sangat bersyukur, tanpa kuminta telah kudaptkan jawaban pasti dari setiap pertanyaanku tentang dia. Jawaban itu adalah, “Aku mengagumi sosok yang cuek itu, ya dia...”

Aku tidak bisa melukis tapi aku bisa menyimpulkan, “Lukisan itu tidak hanya dilihat tapi dirasakan, mata menggambarkan kebenaran dan mata bisa mengatakan apa yang tidak bisa diucapkan, “Senin, hari yang membosankan bagiku, tapi di hari itu terasa berbeda. Sesekali kucuri-curi pandangan wajah manisnya dan lebih kuhabiskan hari Senin itu dengan melamun nggak jelas.

Tiba-tiba saja, entah aku yang kepedean atau memang dia melihat ke arahku. Timbul inisiatif untuk melihatnya kembali kearahnya. Tak sengaja aku melihat wajahnya dan kenapa aku merasa dia memalingkan pandanganya. “Benaekah itu?” dalam hatiku berkecamuk perasaan senang menyebar ke seluruh tubuhku, “ Apakah dia mengetahui perasaanku? Perasaanku yang mengaguminya? Dia?” Ataukah hanya perasaanku saja...dan kalaupun dia telah mengetahuinya bisakah dia tetap membiarkan diriku mengaguminya, mengagumi di dalam kanvas bisu, diam, tak didengar, meskipun terlihat.

Lelaki itu ...tak pernah tahu rasa kagumku padanya dan aku tetap berusaha menjaga ketidakmungkinan itu. Ya...menjaga rasa ini agar dia tetap tidak mengetahuinya. Karena, ada seorang lelaki aneh lain yang suka merusak suasana mengatakan sesuatu padaku dan kata-kata itu selalu kuingat, “Mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan, itu sangat menantang. Dan menjaga ketidakmungkinnan tetap ketidakmungkinan, itu seringkali luar biasa...”

Lelaki pelukis itu tak banyak bicara, tetap tidak banyak bicara...Dia tetap melukis suasana hatinya di kanvas itu. Dan aku ...aku sudah cukup senang untuk melukiskan segala suasanaku dalam kanvas bisu...

Karya : The Artist 2018

Posting Komentar untuk "Pengagum dalam Kanvas Bisu"

Berlangganan Artikel