Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karena Berita Roda Baca

Karena Berita Roda Baca

KRING!!! Suara yang amat ditunggu siswa, penghilang penat, lelah dan segalanya. Entahlah aku masih duduk memainkan pulpen hitam di hadapku. Aku membayangkan akan seperti apa di umur 17 ku. Bibir tipis ku tersenyum manis. Aku ingin mengajak Ibu ke pantai, kami berdua. Hanya kami.
Aku melengguh kesal, ku lihat jam tangan yang melingkar di tanganku. Waktu berkemas ku tinggal 2 menit. Ibu mulai mengunci jendela dan pintu. Percuma bukan? Rumah kayu ini tak akan mampu menahan bebatuan dan segala yang Merapi keluarkan. Aku melihatnya 30 detik lagi, tangan Ibu menyambarku dengan cepat. Terpontang panting. Tangan kiri Ibuku mendekap radio. Berita itu, aku benci. Jika ini hari terakhir maka, biarkan. Kenapa kami harus terpontang panting Ibu? Semua berlari serawutan. Toko-toko ditutup, rumah-rumah dikunci, tim SAR, PMI, PMR, TNI, Tentara, semuanya serentak tersebar. Letusan itu besar, sungguh nyawaku ciut jika dibandingkan dengan kuasanya. Gunung Merapi meletus, itulah yang diberitahukan di majalah-majalah, Koran, TV, dan termasuk radio yang di dekap Ibuku. Tangan Ibu masih menggegamku, sedikit membungkuk karena beban tasnya. Matanya terfokus pada segala arah, menerobos orang-orang berlari secepat kemampuannya. Aku tak tahu Ibu hendak membawaku ke mana, aku menggigit bibir ketika asap asap mengepul di langit langit, takut dan pasrah adalah satu hal yang paling bisa di andalkan. Di depan toko roti Ibu belok kiri kakinya berdarah lecet entah kenapa. Menerobos gang-gang seolah mencari jalan pintas ketika itu, ia berhenti tepat di depan terminal. Aku terdiam.

Gunung Meletus

Ia memesan tiket bus, tetapi antrian panjang itu, ia memutuskan mengantri tiket travel. Dibukalah dompet hitamnya, 2 lembar uang 100 ribuan. Mulutnya datar, diam. Perlahan air itu menetes, membuat hilir yang amat haru. Mempersembahkan sebuah tiket travel kepadaku, aku melirik melihat tempat tujuan. “Blitar?” aku membelalakan mata. “kita mau ke Blitar?” Ibu kenapa harus Blitar?” Aku punya teman di sekitar sini, kita harus ke rumahnya sebentar. Hanya untuk beberapa hari bukan?” tanyaku rasah “Ibu berpikir bencana ini akan bilang bulan, bukan hanya hari. Kondisi rumah kita tidak akan layak, kita masih butuh waktu lama merenovasinya. Pergilah ke rumah kakek!” Ia menatap wajahku perlahan, mengisyaratkan sungguh ini permintaan yang amat penting baginya. “Lalu ibu? Apa yang akan kukatakan tentang Ayah?” tanyaku dengan cemas.
“Kejadian itu sudah Sembilan tahun silam, kakekmu akan tau. Ia kutu buku, mungkin di umur 70 nya, ia masih bisa membaca tanpa kacamata. Kau tak perlu risau, jawablah seadanya sejujur mungkin.” Jelasnya lembut. “Apakah kakek akan marah pada kami nanti?” tanyaku lagi. “Bukan kami, tapi kamu.” Jawab Ibu sambil tersenyum tulus, memperderas hilir yang membuat isakku. “Aku sendiri?” suaraku membentak marah.”Kalau aku sendiri, aku tidak mau pergi bu. Tiadk akan.” Suara amarah kekecewaan itu keluar, keluar begitu saja. “Kamu punya waktu lama, hargai waktu itu. Kumohon jangan khawtirkan Ibu! Setelah naik travel ini, kamu turun dekat terminal. Pergilah ke jalan Bali! Tidak akan jauh dari terminal. Aku lupa nomo kakekmu. Kamu bisa bertanya di sana. Kumohon jangan khawatirkan Ibu, uang ibu hanya cukup 1 tiket.”Jelasnya. Aku hanya diam menahan tangis mataku sembab hingga aku tak mampu membendungnya. Bagaimana? Bagaimana jika aku tidak bertemu Ibu lagi? Bukanlah akhir ini lebih baik untuk kami? Ya Tuhan , berita ini. Aku benci. Asap asap itu mengepul dahsyat, gedung itu seperti mengeluarkan amarah yang tak tertahan. Aku diam, Asap-asap itu membuatku khawatir akan Ibu. Abu-abu itu seperti hujan, travel ini berjalan perlahan. Air mataku belum berhenti menetes. Fotoku, Ibu, dan Ayah aku sempat masih menaruhnya dalam dompetku. Kututup mataku berharap, bangun ku telah tiba di tujuan.

Jalanan yang ramai, klakson berbunyi nyaring dari satu dua pengendara. Toko-toko yang diterangi cahaya lampu itu, terang benderang. Aku sampai Blitar. Adzan maghrib menggema. Sudah hampir dua kali kuputari jalan bali. Tapi tak kutemukan seorang kakek. Aku baru sadar, aku seorang yang manja. Percaya diri pun tak punya.
Seorang bapak kulitnya sedikit keriput, berpakaian lengkap dengan sarung dan peci yang rapi, mengajakku ke mushola. Menanyakan banyak sekali cerita tentangku saat perjalanan ke mushola. Mengapa? Kenapa? Bagaimana? Berapa? Siapa? Dan banyak sekali dan hei...Dia kakekku. Sungguh aku terbelalak, lantas memeluknya erat. “Kenapa kakek terlihat lebih muda??” tanyaku. Aku rajin berwudhu, aku mulai menertibkan waktu sholatku. Katanya air wudhu bisa membuat kita tampak lebih muda.” Jelasnya panjang lebar.

Pagi itu tampak bising, begitu dan begitu untuk seterusnya. Aku sudah mulai melupakan kejadian itu, kakekku obat penyembuh terbaik. Aku disini tak terbilang hari, tak terbilang minggu, juga tak terbilang bulan. Sudah 2 tahun lebih aku disini, lulus dengan nilai yang tak begitu memuaskan. Nilai-nilai itu ciamik bagiku. Mengingat kebencianku akan membaca buku dan berita. Aku memperhatikan nilai-nilai itu. Andai Ibu melihat, apa dia akan marah padaku? Aku bergumam dalam hati disertai senyum tipis yang mengembang. Tepat disebelahku, kakekku terfokus pada kamus tebal. Ia bahkan tak sanggup memarahiku, karena nilai ciamikku. “Apa kau tidak mau membaca Koran itu? Kali aja ada pekerjaan yang pas untukmu, tidak mau kuliah sudah membuat kakek dan Ibumu kecewa. Bekerjalah! Cobalah!” kakekku menatapku, mukanya sedikit pucat. Melepas kaca matanya perlahan. Aku tersenyum tipis. “ Sudah kubilang, aku benci membaca. Apalagi berita, orang tuaku berpisah dengan karena berita. Tolong kakek! Kumohon jangan paksa aku! Kepergian ayah dan berpisah dengan ibu sudah lebih dari cukup untukku. Jangan membebani aku lagi, kumohon!” pintaku. “Please Don’t think read book is bad for you! Life is about reading!” Aku terbelalak. “Bagaimana? Bagaimana bisa kakek???” belum sempat aku meneruskan, kakek mengayunkan tangannya. Memperlihatkan kamus yang dibacanya. Aku Menundukkan kepala, malu karena merasa ini sedikit janggal bagiku.
Dulu, kurang lebih 11 tahun yang lalu. Aku mendapati kedua orang tua yang ceria. Bertukar berita, satu dengan yang lainnya. Saat senja, ibu selalu menyediakan Koran, biscuit dan susu coklat sebagai pembuka. Hanya sebentar keceriaan itu dan kemudian hari, dihiasi dengan ketegangan. Ayahku melakukan suap. Ia tertangkap basah, namanya terpampang jelas di Koran-koran, majalah, atau semacamnya yang berbau berita. Ibu menentang keras untuk tidak membaca berita hanya beberapa saat. Ayah di penjara. Ibu menjual rumah, mobil, tanah dan seluruhnya. Uang itu dibagi dua, setengah untuk kehidupan kami selanjutnya, dan setengah untuk menebus ayah di penjara. Aku dan Ibuku terpaksa tidur di mana saja, Mushola, depan toko, dimanapun. Banyak yang mengusir kami, bahkan sebagian mengatakan kami haram. Haram karena kasusu penyuapan. Membawa tas besar, yang dapat di sambar kapanpun. Uang di dalamnya pun tak ternilai ratusan ribu lagi, di dalamnya mungkin ribuan juta atau bahkan miliar. Ketika ayah sudah sempurna keluar, satu detik pun ia tak menemuiku dan ibu. Sungguh, ini bukan ayah yang kukenal. Ibupergi dengan rasa kecewa, mengajakku sejauh mungkin di Jakarta. Menaiki bus, kereta, dan semacamnya. Hingga kami tiba di jogja. Ibukota pertama Indonesia. Kami tinggal di sana hingga tahun-tahun berikutnya. Hingga bencana ini melanda. Merapi yang mengeluarkan api dan laharnya, membuatku dan ibuku terpisah amat lama. Aku mematung, mengingat peristiwa itu.

“Apa kau tahu Ibumu sepertia apa dulu?” ia memancing ku bicara, memotong kekosongan.”Ada apa dengan ibu?” Tanyaku penasaran. “Ia sosok yang tangguh, berbanding terbalik denganmu, tapi kamu dan ibumu sama-sama keras kepala. Ibumu suka membaca. Nenek selalu mengingatkan ibumu untuk membaca. Ia tak pernah menyuruh Ibumu belajar, karena baginya membaca adalah belajar. Ketika ibumu baru berumur 7 tahun, nenekmu meninggal. Bukan kakek yang merasa berat hati karena di tinggal istri namun justru ibumu di umur 7 tahun tersedu menangis ditinggal ibunya, lebih jika hanya 1-2 hari mungkin 5 atahu bahkan seminggu. Ibumu bahkan tidak mau sekolah selam seminggu. Ia tak mau sekolah karena tidak ada yang meningatkannyamembaca. Maka jika kakek siapa lagi yang akan mengingatkannya?? Kakek akhirnya melepas jabatan kakek sebagai kepala sekolah, memilih untuk merawat ibumu. Kakek memutuskan untuk pension. Dimulailah kehidupan baru kakek membaca buku. Hingga hari-hari selanjutnya. Ibumu lulus SD dengan nilai yang baik, cukup memuaskan, begitu juga dengan SMP dan SMA nya. Ia masuk Universitas satra terbaik kala itu. Sebenarnya, ia mendapatkan benyak tawaran beasiswa dari beberapa universitas. Namun, ibumu menolak , membiarkan beasiswa itu di ambil yang lebih membutuhkan. Ibumu masih merasa mampu kala itu, namun saying...apa gunanya sekolah di sekolah ternama bila tidak meluluskannya?? Disemester terakhir mendekati kelulusannya didekat kampus ibumu, terjadi kebkaran besar-besaran. Toko buku terbesar di kota. Masih tersisa banyak buku disan walau sebagian hangus dimakan api menyisakan abu hitam. Ibumu, tanpa berfikir panjang, menerima tawaran pemilik toko buku itu. Pemilik toko buku itu menawarkan ibumu seluruh isi toko itu dengan uang berapa pun, asal cukup menguntungkan untuk kedua belah pihak. Ibumu memberikan seluruh uangnya, uang yang hendak di gunakan biaya kuliah ke depan, untuk rencana kelulusannya kelak. Hanya bersisa 120 ribu saja. Astaga, konyol bukan?? Ia membawa pulang seluruh buku itu ke blitar, ditempat kediaman kakek. Kakek masih menyimpannya, semuanya.” Kakek menghela nafas perlahan, memandang langit-langit rumah, lalu tersenyum dan menatapku. “ Bacalah buku-buku itu , untuk ibu. Juga untuk kakek.” Ia memperileks duduknya. Bersandar dikursi lalu menghembuskan nafas perlahan. Kemudian melamun. Ia masih dalam keadaan melamun, tetap. Dan masih melamun, lalu menjatuhkan buku kamus tebal yang barusan dibacanya. Dan masih melamun. Kuperhatikan perutnya tidak kembang kempis. Kuperiksa sekali lagi, tidak. Tangannya lemas dan pucat sekali, aku memanggilnya perlahan. “kakek...” air mataku menetes memeriksa nadinya. Berhenti.

 Aku menatap kosong pemakaman, sepi. Amat sepi. Satu du kunang-kunang menghiasi pemakaman disusul nyala lampu-lampu di sudut sudut pemakaman. Menerangi sepi, bersisa aku yang juga sepi dalam diamku, rindu wajah kakekku yang ceria, rindu wajah kakekku yang riang menyayangiku berbagai macam hal saat pertama bertemu di pingggir jalan. Semua itu, beru berhitung jam. Aku sudah rindu. Aku membuka kamar kakekku, dan ruangan perpustakaan milik ibu. Buku itu bersih, rapi. Hampir tak ada debu di sana, ada satu buku yang unik. Aku membuka lembar berikutnya, sejak semakin lama aku membaca buku, aku mengakui...aku suka membacanya. Senyumku sungguh senyum ceria. Memang benar, jika aku membuka halaman kedua juga halaman ketiga dan seterusnya. Akupun memutuskan mencari pekerjaan, lulus SMA sengan nilai yang ciamik. Hanya hinaan yang ku dapat saat melamar kerja. Malam itu, aku lelah. Berjalan menuju rumah, bertanya-tanya “ tidak aadakah pekerjaan yang layak untuk ku?”. Tiba-tiba ada seorang menepuk bahuku dari belakang “Vina!” teriaknya. Aku menoleh “permisi, saya bukan vina.” Wjah laki-laki itu malu-malu menatap. Baru saja ketahuan salah orang. “oh, maaf.” Kata-katanya berubah menjadi sopan sambil mengacak acak rambutnya. Kami berbicara banyak di perjalanan, ia mengantarkanku hingga depan rumah. Juga menawari pekerjaan menjadi penunggu kasir, aku pun dengan senang hati menerima tawarannya.

“Kau rapi sekali hari ini, Ri?” tanyaku pada lelaki yang menawariku pekerjaan beberapa minggu kemarin. “Aku mau wawancara dengan bu Sarah.” Jawabnya. “Kenapa memangnya? Siapa yang menyuruhmu?” tanyaku penasaran. “Oh aku lupa member tahu , aku kerja sambil kuliah.” Jawabannya dengan senyum tipis miliknya itu. “Apa jabatan bu Sarah sampai kamu ingin mewawancarainya?” tanyaku sedikit iseng , memperpanjang pembicaraan agar pembicaraan ini tidak terlihat singkay seperti basbasi. “Beliau seorang penjaga perpustakaan di kampusku, sugguh hidupnya amat unik. Oh ya, dia juga kutu buku sepertimu.” pujinya yang membuat pipi merah mudaku mengembang. “siapa nama lengkanya?” entah bagaimana, pertanyaan itu meluncur begitu saja. “Sarah Musdalifah.” Terangnya. Aku menatapnya , jantungku berdebar apakah dia ibuku sungguh benarkah Tuhan? Apakah benar? Seribu pertanyaan meluncur deras dalam lamunanku. Aku meminta Amri untuk mempertemukanku denganya di restoran kecil dekat kampusnya. Aku berdandan rapi malam ini. Menghela nafas perlahan, menatap menu di meja makan. Menunggu bu Sarah datang. Detik jam berlalu, kami menuju parkiran. Amri memahami semburat kecewa di wajahku, lalu menggenggam tanganku lantas tersenyum menghadapiku.”Lihatlah ke belakang!” pinta-pintanya tiba. Apa dia tak paham rasa kesalku!” Semburat kecewa ini, aku menatapnya kesal. “Aku tak suka bermain-main.” Ucapku terus meliriknya. “Jiak hari ini meniupku, lebih baik dunia yang berenggut nyawaku, aku benar-benar mencari Ibuku Riii!” Amri memegang bahuku, memaksaku menghadap ke belakang. “Ibu?”. Malam itu aku bertemu dengannya.

 Aku pada akhirnya tinggal kembali dengan ibu, membaca buku bersama, menghabiskan senja dengan sepotong roti dan kopi. Saling bertukar cerita dan bertukar berita apa saja. Tetapi sore ini, aku sendiri. Ada urusan yang harus ibu selesaikan. Aku menunduk, menatap kosong cangkir di depanku. Kupikir membaca buku itu indah, menyesal bila hidup tek pernah sekalipun membaca buku. Mulutku melepas senyum ceria, ya...amri bilang, ibu sedang merencanakan sebuah kejutan untukku.

Karya Shabrina Tya Mahardika

Posting Komentar untuk "Karena Berita Roda Baca"

Berlangganan Artikel