Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki

Waktu berlalu begitu cepat. Tak percaya sekarang aku sudah menjadi siswi SMA. Namaku Arum Nuryanti, sekarang aku berada di kelas XB. Di kelas aku memiliki teman baru yaitu Denik, Vita, Defi dan Ila. Kami selalu bersama berbagi suka duka. Semua berawal saat sekolah kami mengadakan Persami (PTA) yang wajib diikuti oleh semua siswa baru, dan kebetulan kami satu regu. Dan dari situ aku mengenal sosok orang yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Semua teman-teman ku mengethui soal itu, ketika mereka menangkap basah saat aku sedang memperhatikannya.
“Arum, kamu sedang melihat apa?”, Tanya Vita saat aku berada di dekat lapangan basket melihat ia bermain.
“Aku tak melihat apa-apa kebetulan aku hanya lewat sini, dan berhenti untuk melihat basket sebentar.” Jawabku sambil memalingkan wajah.
“Oh. Kirain kamu memperhatikan yang main basket,” Jawabnya.
“Ah kamu bisa aja, em kalau begitu aku duluan ya,” pamitku pada Vita akan mengetahui kalau aku sedang gugup.
“Oh, oke sampai ketemu sepulang sekolah ya..”

Sejak saat itu aku mulai mencari tahu tentangnya. Dan aku juga mengikuti semua kegiatan yang ia ikuti di sekolah baik rohis maupun kepramukaan. Hingga suatu saat aku dan teman-teman berkumpul di Monkey House saat jam pelajaran kosong.
“Arum apa kamu sudah tau nama kaka kelas yang kamu sukai itu?” Tanya Denik.
“Sudah. namanya putra, bahkan aku tahu di kelas mana dan juga alamat rumahnya,” jawabku dengan pedenya.
“Ow, tapi Rum kalau aku boleh member saran. Umm...sebaiknya kamu jangan terlalu fokus dengan orang yang kamu sukai, takutnya nanti kamu akan tersakiti apabila kamu mengetahui jika ia sudah punya kekasih dan itu akan membuat kamu tidak fokus sama pelajaran di sekolah,” Saran Ila kepadaku.
“Umm, baiklah. Akan ku ingat nasehatmu itu Illa. Terima kasih, “Ucapku padanya.
“Teman-teman ayo kita kembali kekelas, sepertinya tadi aku melihat jika guru kimia sudah datang dikantor,”ucap Defi tiba-tiba.”Oke, baiklah,” jawab kami serempak.

Sekarang aku terlalu sibuk untuk mencari tahu tentangnya. Teman-teman juga sering menasehatiku karna aku sering tidak mengerjakan tugas. Tanggal 17 April kagiatan pramuka akan mengadakan Out bond ke Gendol dan aku takkan melewatkan kesempatan itu karena ia seniorku di kegiatan pramuka, jadi ia ikut. Aku tak menyangka ternyata aku satu regu dengannya dan betapa senangnya aku bisa selalu bersamanya saat disana dan teman-temanku juga ikut karena dia juga salah satu anggota yang akan di lantik menjadi bantar.

Rombongan kami berangkat menggunakan truk dari sekolah. Sesampainya disana adik-adik disuruh mendirikan teda dan kakak-kakak laksana memasak intuk makan siang. Setelah makan siang dilanjutkan dengan jelajah sampai sore. Saat jelajah rasanya sangat seru karena reguku(Pendobrak) selalu melewati rintangan dengan sempurna, hingga pada rintangan yang terakhir menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupakan, karna saat itu semua anggota regu sudah lebih dulu naik dibantu kak Putra dan tinggal aku. Tetapi saat kak Putra mengulurkan tangannya untuk membantu aku agar naik ke atas bukannya aku yang naik tapi malah kak Putra nya yang turun ke bawah.
“Aduh..maaf kak, karena aku baju kakak jadi kotor,” Ucapku merasa bersalah.
“Tak apa lagi pula setiap regu harus kompak dan saling bahu-membahu jadi tak usah merasa bersalah,” Jawabnya dengan nada tegas. Setelah itu semua regu sudah sampai di atas dan kebetulan juga hujan turun. Akhirnya, kakak pembina membuat sebuah permainan di dalam kolam, siapa yang paling kuat dan bagus yel-yel nya maka dialah yang menjadi pemenangnya. Dan ternyata regu kami yang selalu menang. Kemudian semua regu mandi dan mempersiapkan makan malam. Setelah makan malam ternyata kakak-kakak laksana member surprise pada pembina kami karean tepat hari itu beliau berulang tahun. Saat acaranya sudah selesai semua tidur untuk persiapan jelajah pagi sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Semenjak hari itu aku jadi lebih dekat dengan kak Putra dan semua berubah saat aku mengetahui jika aku benar-benar memendam rasa Cinta itu pada kak Putra. Semua yang aku lalui kutulis semua dalam buku harianku dan aku pernah berkhayal jika aku akan hidup bersamanya sampai tua. Disebelahnya kusembunyikan perasaanku, bersembunyi dibalik label teman, itulah yang bisa aku lakukan saat ini. Hari demi hari kulewati dengan keceriaan di sekolah maupun dirumah. Sampai suatu saat senyumku tak lagi terlihat saat kenyataan kecil yang begitu pahit terungkap aku mengetahui semuanya saat Vita, Defi dan Denik memberitahuku saat di lapangan basket jam olahraga.

Flashback

“Arum kamu tahu nggak jika kak Putra ternyata sudah punya kekasih dan sudah disetujui oleh orang tuanya.” Kata Denik memecah keheningan.
Aku terdiam sebentar karena terkejut,”Ah yang bener aja kamu! Memang kamu tahu dari mana Denik”elakku tak percaya dengan semua perkataan Denik.
“Sumpah. Aku tidak berbohong sama kamu, aku tahu itu semua dari temanku karena di tinggal di dekat rumahnya kak Putra.” Jawab Denik dengan memberiku bukti bahwa ucapannya tidaklah bohongan belaka.
“Em..kalau begitu, bolehkah aku main ke rumah temanmu untuk membuktikannya sendiri?” Tanyaku pada Denik karena aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
“Baiklah, bagaimana jika hari minggu ini?” jawabnya.
“Oke, Vita, Illa apa kalian mau ikut? Hitung-hitung buat refreshing. Memang kalian tidak bosan jika hari minggu terus di rumah. Sekali-ikut ya plis.” Ajakku pada mereka untuk menutupi kesedihan yang terlalu pedih dalam hati ini, karena aku tidak ingin semua tahu jika aku begitu.
“Oke, kita ikut iiyakan temen-temen..” Tanya Vita pada yang lainnya.
“Baiklah, kita akan ikut.” Jawab mereka sermpak.
“Tapi rum, jika kamu butuh sandaran kamu bisa meminjam bahu kami. Karena kita inikan sahabat, dan sahabat itu harus berbagi suka dan duka bersama, oke.” Ucap Denik.
“Oke, akku akan berbagi jika aku tak bisa mengatasinya, hehe.” Jawabku berusaha tegar, walau sebenarnya aku ini sangatlah lemah.

Hari itu telah tiba hari dimana semua benar-benar terbukti. Tapi aku tidak akan memperlihatkan jika aku terpuruk, cukup aku dan Tuhan yang tahu.
Sejak saat itu aku lebih suka menyendiri. Pikiranku kacau, dan semua pelajaran tidak ada yang masuk di otakku, yang kupikirkan hanya dia, dia, dan dia tak ada yang lain. Semua teman-temanku salalu menghiburku berusaha membuatku tertawa dan aku harus terpaksa tersenyum karena aku tak mau semua teman-temanku menjadi sedih karena aku. Tetapi apakah kalian tahu, berusaha agar tegar seolah-olah tak ada yang terjadi itu sangat menyakitkan dan aku harus melakukannya agar sahabatku tidak ikut bersedih.

Hari demi hari di sekolah kulewati dengan senyuman dan menyembinyikan raut sedih. Hingga suatu malam aku mulai merenung. Untuk apa aku bersedih? Bukankah aku bukan siapa siapa untuknya? Apakah ia merasakan yang sama? Kurasa semua yang kulakukan hanyalah sia-sia. Aku putus asa. Aku menyerah. Buat apa aku melakukan ini semua yang jelas-jelas akan membuatku rugi. Selalu mendapatkan teguran karena tidak mengerjakan tugas karne sering melamun di malam hari. Bahkan mulai UAS ku turun drastis karena tidak paham tentang apa yang disampaikan guru. Maulai hari ini aku bertekan akan melupakan semua yang pernah menjadi kenangan saat bersamanya. Aku akan kembali menjadi Arum yang dulu. Arum yang ceria dan murah senyum.

Hari ini matahari tersenyum sangat indah, menyapa semua makhluk di bumi. Kumulai hari ini dengan senyuman. Saat di sekolah aku menyapa sahabatku yang selam ini aku acuhkan dan meminta maaf untuk semuanya. Dengan senang hati mereka memaafkanku.
“Terima kasih teman karena sudh mengerti aku maaf untuk semua sikapku pada kalian” ucapku saat bertemu dengannya di taman IPA.
“Tidak apa-apa kita semua sudah memaafkanmu. Tapi kamu harus berjanji tidak akan seperti ini lagi.” Ungkap Defi.
“Dan patah hati boleh saja. Tetapi jangan berlarut-larut karena akan merugikan kamu.” Timpal Vita.
“Terima kasih untuk semua. Kalian memang sahabat terbaikku.” Jawabku dengan air mata yang tanpa kusuruh keluar dengan sendirinya.
“Sama-sama” Ucap mereka bersamaan dan langsung memelukku.

Mulai hari itu semua telah berubah, aku menjalani hariku dengan sejuta senyuman. Sebab aku mulai menyadari jika cinta tak harus memiliki. Hanya dengan melihatnya bahagia dengan orang yang di cintainya sudah bisa membuat hati ini bahagia, dari pada ia bersamaku tapi karena terpaksa membuatku menjadi orang yang egois dan aku tak mau sampai itu terjadi. Biarlah ia memilih jalan yang akan ia lalui dan aku akan menjalani apa yang telah Tuhan takdirkan, karena aku tahu jika cinta tak bisa dipaksakan. Dan aku akan memilih fokus belajar karena nanti pasti ada waktunya untuk mencintai dan dicintai.

Karya : Anggun Nanda Jayanti

Posting Komentar untuk "Cinta Tak Harus Memiliki"

Berlangganan Artikel